HALOJABAR.CO – Peristiwa Isra Miraj Nabi Muhammad SAW menjadi momentum sangat penting untuk kehidupan umat Islam di muka bumi.
Pada peristiwa agung inilah Rasulullah SAW menerima perintah sholat lima waktu secara langsung dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, tanpa perantara, menandakan betapa sentralnya sholat dalam membangun keimanan, akhlak, dan peradaban.
Dewan Penasihat DPP Persatuan Umat Islam (PUI), Prof. Dr. KH. Achmad Tjachja Nugraha, menegaskan bahwa Isra Mi’raj tidak boleh dipahami sebatas kisah spiritual, tetapi harus dimaknai sebagai pesan perubahan perilaku umat.
“Tidak ada ibadah lain yang perintahnya disampaikan secara langsung dalam peristiwa Isra Mi’raj selain sholat. Ini menunjukkan bahwa sholat adalah penghubung utama antara manusia dan Allah,” tuturnya, Jumat (16/1/2026).
“Allah SWT berfirman, peliharalah semua sholat dan sholat wustha, dan laksanakanlah sholat karena Allah dengan khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 238),” sambung KH. Achmad.
Menurut KH. Achmad, ayat tersebut menegaskan bahwa sholat tidak cukup hanya dikerjakan secara formal, tetapi harus dijaga waktu, kekhusyukan, dan dampaknya dalam kehidupan nyata.
Kelalaian terhadap sholat, kata dia, sering berujung pada kelalaian dalam amanah sosial.
Hal ini sejalan dengan peringatan Allah SWT: “(Yaitu) orang-orang yang lalai terhadap sholatnya.” (QS. Al-Ma’un: 5)
Sebaliknya, Al-Qur’an memberikan pujian kepada mereka yang konsisten menjaga sholatnya:
“Dan orang-orang yang memelihara sholatnya.” (QS. Al-Ma’arij: 34)
Ia menjelaskan bahwa sholat yang benar akan melahirkan keseimbangan antara ibadah ritual dan aktivitas duniawi.
Islam tidak mengajarkan pengasingan diri, melainkan keterlibatan aktif dalam kehidupan sosial dan ekonomi, sebagaimana firman Allah SWT.
Apabila sholat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung. (QS. Al-Jumu’ah: 10)
Lebih jauh, nilai Isra Mi’raj juga tercermin dalam nasihat Luqman kepada anaknya. “Wahai anakku! Laksanakanlah sholat, suruhlah berbuat yang makruf, cegahlah dari yang mungkar, dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu.” (QS. Luqman: 17)
*Sholat, Krisis Moral, dan Bencana Lingkungan*
Dalam konteks kekinian, Prof. KH. Achmad Tjachja Nugraha menyoroti keterkaitan erat antara kualitas sholat umat dengan maraknya bencana dan kerusakan lingkungan.
Menurutnya, Al-Qur’an secara jelas menyebut bahwa kerusakan di bumi tidak terjadi tanpa sebab, melainkan akibat perilaku manusia yang mengabaikan nilai-nilai ilahiah.







