HALOJABAR.CO — Dinamika kontestasi Pemilihan Presiden (Pilpres) selalu menyisakan celah menarik untuk dibedah, terutama dari sisi komunikasi media. Hal inilah yang mengantarkan Dr. Tresia Wulandari, S. Ikom., M.Ikom meraih gelar Doktor dalam Sidang Terbuka Promosi Doktor di Universitas Islam Bandung (Unisba), Jalan Tamansari, Bandung, Senin (2/2/2026)
Dalam disertasinya, Dr. Tresia membedah pembingkaian media televisi terhadap citra politik pasangan Prabowo–Gibran pada kontestasi Pemilihan Presiden.
“Inti dari disertasi saya adalah bagaimana pembingkaian televisi membentuk citra politik Prabowo–Gibran. Fokusnya pada komunikasi media politik di pilpres, agar ke depan bisa menjadi rujukan dalam merancang strategi kampanye yang efektif,” ujar Dr. Tresia usai sidang.
Penelitian ini mengombinasikan tiga pendekatan utama, yakni teori framing, citra politik, dan elektabilitas. Melalui ketiga perspektif tersebut, disertasi ini menawarkan pemahaman tentang bagaimana strategi komunikasi media dapat memengaruhi persepsi publik sekaligus meningkatkan peluang keterpilihan kandidat.
“Jika teori-teori ini diimplementasikan secara tepat di panggung politik, maka akan melahirkan strategi kampanye yang mampu mendongkrak elektabilitas kandidat,” jelasnya.
Tak hanya berhasil menyelesaikan studi doktoralnya dalam waktu relatif singkat, yakni dua setengah tahun, Dr. Tresia juga meraih nilai akademik 3,96, sebuah capaian yang mencerminkan konsistensi dan kesungguhan dalam proses riset.
Ia mengaku, sidang promosi doktor tersebut menjadi momen penuh haru dan kebanggaan setelah melalui proses panjang dan menantang.
“Perasaannya campur aduk antara haru dan bangga. Bagi saya, disertasi yang baik adalah disertasi yang selesai. Saya benar-benar berjuang dari mulai turun ke lapangan, menganalisis pemberitaan, hingga menuangkannya dalam disertasi yang diharapkan bermanfaat bagi akademisi maupun praktisi,” tuturnya.
Menurutnya, tantangan utama dalam menempuh studi doktoral adalah manajemen waktu, terutama ketika harus membagi peran antara akademik, pekerjaan, dan keluarga.
“Hambatan paling besar itu waktu. Tapi ketika kita sudah menentukan prioritas dan konsisten, insyaallah prosesnya bisa dijalani. Kuncinya fokus dan kesungguhan,” katanya.
Ke depan, Dr. Tresia berharap disertasinya tidak berhenti sebagai karya akademik semata, tetapi dapat menjadi referensi praktis di bidang komunikasi politik dan media.
“Saya ingin ilmu yang saya peroleh ini benar-benar bermanfaat. Tidak hanya untuk akademik, tapi juga untuk praktisi media dan kontestan politik, agar teori yang ada bisa diimplementasikan secara nyata,” pungkasnya.







