HALOJABAR.CO – Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menilai modal sosial lebih kuat berperan dalam mengentaskan kemiskinan.
Gagasan tersebut yang diangkat dalam buku “Kemiskinan? Modal Sosial sebagai Kunci Pengurangan Kemiskinan Perdesaan Indonesia” yang ditulis oleh Dr. Ahmadriswan Nasution, S.Si., M.T, dan Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Achmad Tjachja Nugraha, M.P., PIA.,CFrA., CACP.
Melalui karya ini, Prof. Achmad Tjachja Nugraha, menawarkan sudut pandang berbeda. Ia menegaskan bahwa kemiskinan tidak hanya soal kekurangan modal ekonomi, tetapi juga berkaitan erat dengan kekuatan hubungan sosial di tengah masyarakat.
“Selama ini kita terlalu fokus pada bantuan material. Padahal masyarakat desa memiliki kekuatan besar yang sering diabaikan, yaitu modal sosial – kepercayaan, gotong royong, solidaritas, dan jaringan komunitas,” ujar Prof. Achmad Tjachja Nugraha dalam keterangannya, Senin (16/2/2026).
Menurutnya pendekatan tersebut dinilai belum sepenuhnya menyentuh akar persoalan. Sebab bisa jadi modal sosial adalah kunci menekan kemiskinan di desa dan bukan sekadar bantuan uang.
Desa-desa di Indonesia sejatinya memiliki struktur sosial yang kuat. Hubungan antarwarga tidak semata bersifat transaksional, melainkan dibangun atas dasar nilai kebersamaan dan norma sosial yang telah mengakar turun-temurun. Inilah yang disebut sebagai modal sosial.
Dalam buku tersebut dijelaskan, modal sosial mencakup unsur kepercayaan antarindividu, partisipasi dalam kegiatan kolektif, kepatuhan terhadap norma bersama, hingga keberadaan jaringan sosial yang solid.
Ketika unsur-unsur ini terpelihara dengan baik, masyarakat lebih mampu bertahan menghadapi tekanan ekonomi.
“Rumah tangga yang memiliki jaringan sosial kuat cenderung lebih cepat bangkit saat menghadapi krisis. Mereka punya akses informasi, dukungan moral, bahkan bantuan nyata dari komunitasnya,” jelasnya.
Buku ini juga menyoroti bahwa program pengentasan kemiskinan akan lebih efektif bila dirancang dengan memperhatikan kekuatan sosial lokal.
Artinya, pemerintah dan pemangku kebijakan tidak cukup hanya menyalurkan bantuan, tetapi juga harus memperkuat partisipasi masyarakat dan memperluas ruang interaksi sosial.
Ia menilai, masyarakat desa tidak boleh diposisikan semata sebagai objek penerima bantuan. Sebaliknya, mereka harus dilihat sebagai aktor utama pembangunan.
“Kalau masyarakat dilibatkan dan modal sosialnya diperkuat, program pengentasan kemiskinan akan lebih berkelanjutan. Ada rasa memiliki, ada tanggung jawab kolektif,” ujarnya.
Lebih jauh, buku ini mengajak pembaca memahami kemiskinan secara lebih humanistik. Kemiskinan bukan hanya persoalan angka statistik, melainkan kondisi sosial yang dipengaruhi relasi, struktur komunitas, dan kemampuan masyarakat membangun kolaborasi.
Pendekatan berbasis modal sosial dinilai mampu menjadi pelengkap sekaligus penguat kebijakan ekonomi. Ketika bantuan finansial bertemu dengan solidaritas sosial yang kuat, maka peluang keluar dari jerat kemiskinan menjadi lebih besar.
Sementara itu, Dr. Ahmadriswan Nasution menambahkan bahwa buku ini tidak hanya menawarkan gagasan konseptual, tetapi juga membahas secara komprehensif bagaimana modal sosial dapat digali, dikembangkan, dan diukur dalam berbagai bentuk serta konteks perdesaan.
Ia menegaskan bahwa kebijakan publik dan program pembangunan harus diselaraskan dengan kekuatan sosial yang telah tumbuh di masyarakat.
“Buku ini mengulas bagaimana modal sosial dapat diperkuat dan dimanfaatkan sebagai fondasi pembangunan desa. Rumah tangga perdesaan harus dipandang sebagai aktor utama dalam pengurangan kemiskinan, bukan sekadar objek kebijakan. Ketika kekuatan sosial lokal diberdayakan, pembangunan akan lebih partisipatif, berkelanjutan, dan berdampak nyata,” ujarnya. (*)







