HALOJABAR.CO – Dinamika global yang semakin kompleks menuntut pendekatan keilmuan yang tidak lagi berjalan sendiri-sendiri. Hal tersebut menjadi benang merah dalam The First International Conference on Multidisciplinary Research di Kuala Lumpur, Malaysia, pada Senin, 22 Desember 2025.
The First International Conference on Multidisciplinary Research merupakan konferensi internasional perdana yang diselenggarakan melalui kolaborasi Universitas Pertahanan Nasional Malaysia dan Asosiasi DKLPT.
Konferensi ini menghadirkan akademisi, peneliti, serta praktisi lintas disiplin dari berbagai negara untuk membahas beragam isu strategis, mulai dari pertahanan dan keamanan, psikologi, ilmu sosial, kebijakan publik, hingga pengembangan sumber daya manusia.
Forum ini dirancang sebagai ruang dialog terbuka untuk mempertemukan pendekatan teoritis dan praktik lapangan dalam menjawab tantangan global yang terus berkembang.
Salah satu tokoh Indonesia yang turut diundang dalam forum internasional tersebut adalah Direktur Martasandy Psychology Indonesia, Billy Martasandy. Tak hanya berpartisipasi, Billy juga mencatatkan prestasi dengan meraih penghargaan Best Speaker atas pemaparan materi yang dinilai komprehensif, aplikatif, dan relevan dengan tema konferensi.
BACA JUGA: Bapenda Jabar Fokus Jaga Kinerja Pendapatan Daerah di Tengah Tantangan Ekonomi
Penghargaan Best Speaker tersebut diberikan berdasarkan penilaian dewan akademik dan panitia internasional, dengan mempertimbangkan kedalaman analisis, kontribusi keilmuan, serta kemampuan pembicara mengaitkan teori dengan praktik lintas disiplin.
Kehadiran Billy dalam konferensi ini mencerminkan pengakuan terhadap kontribusi praktisi psikologi Indonesia dalam percakapan ilmiah dan profesional di tingkat internasional, khususnya dalam pengembangan psikologi terapan berbasis pendekatan multidisipliner.
Billy Martasandy menilai konferensi ini bukan sekadar ajang akademik, melainkan momentum strategis untuk memperkuat kolaborasi lintas bidang dan lintas negara.
“Forum ini memperlihatkan bahwa persoalan global saat ini, baik terkait pertahanan, stabilitas sosial, maupun kesehatan mental, tidak bisa diselesaikan dengan satu disiplin ilmu saja. Pendekatan multidisipliner menjadi keniscayaan, karena realitas di lapangan selalu saling terkait antara aspek psikologis, sosial, budaya, dan kebijakan,” ujar Billy.
Menurutnya, psikologi memiliki peran penting dalam menjembatani riset akademik dengan kebutuhan nyata masyarakat. Ia menekankan bahwa praktik psikologi modern harus mampu berdialog dengan bidang lain, termasuk pertahanan dan kebijakan publik.







