Isra Miraj jadi Refleksi atas Kesadaran Kehidupan Spiritual dan Tanggung Jawab Sosial Umat

Dewan Penasihat DPP Persatuan Umat Islam, Prof. Dr. KH. Achmad Tjachja Nugraha. Foto/Istimewa

“Sholat bukan hanya ibadah personal, tetapi fondasi etika sosial dan ekologis. Ketika sholat ditinggalkan atau dilakukan tanpa kesadaran moral, manusia kehilangan kendali spiritual dalam mengelola alam,” tegasnya.

Allah SWT berfirman, “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diciptakan dengan baik.” (QS. Al-A’raf: 56)

Menurut KH Achmad, sholat yang dijaga dengan baik akan membentuk kesadaran bahwa manusia adalah khalifah di bumi, bukan perusak.

Nilai disiplin, kepatuhan, dan ketundukan dalam sholat seharusnya tercermin dalam sikap adil terhadap alam, tidak serakah dalam eksploitasi sumber daya, serta bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Al-Qur’an juga mengingatkan:
“Dan janganlah kamu merugikan manusia dengan mengurangi hak-haknya dan janganlah membuat kerusakan di bumi.” (QS. Asy-Syu’ara: 183)

“(Yaitu) orang-orang yang berbuat kerusakan di bumi dan tidak mengadakan perbaikan.”
(QS. Asy-Syu’ara: 152)

KH. Achmad menegaskan bahwa banyak bencana seperti banjir, longsor, kekeringan, dan krisis pangan bukan semata-mata peristiwa alam, tetapi juga konsekuensi dari rusaknya hubungan manusia dengan Allah dan alam.

“Jika sholat benar-benar hidup dalam diri seseorang, ia tidak akan tega merusak hutan, mencemari sungai, atau menghilangkan hak generasi mendatang. Sholat yang benar melahirkan tanggung jawab ekologis,” ungkapnya.

Dikatakannya peringatan Isra Mi’raj harus menjadi momentum muhasabah bersama untuk menguatkan kembali sholat sebagai sumber nilai spiritual, moral, sosial, sekaligus ekologis.

Tanpa perbaikan kualitas sholat, upaya pembangunan dan mitigasi bencana akan bersifat teknis dan kehilangan akar etikanya.

“Isra Mi’raj bukan hanya peristiwa langit, tetapi pesan bumi: bangun peradaban dengan sholat yang hidup dalam perilaku dan kepedulian terhadap sesama serta alam,” pungkasnya. (*)