Kendati begitu, dia tak menampik tantangan selalu ada. Namun yang terbesar bukan dari teknis, melainkan pada proses adaptasi dan komunikasi. Karena itu penting untuk menciptakan lingkungan kerja yang suportif dan tidak intimidatif.
Dari ruang kerja inklusif ini juga pihaknya banyak belajar tentang empati, kesabaran, dan kepemimpinan yang humanis. Di mana timnya belajar untuk saling mendukung, dan membangun budaya kerja yang lebih suportif.
“Kami melihat perubahan bukan hanya pada teman-teman down syndrome, tetapi juga pada tim internal kami. Lingkungan kerja menjadi lebih hangat, lebih sadar sosial, dan lebih menghargai perbedaan,” paparnya.
Nilai plusnya, dia tak menampik bahwa dengan menggadeng individu down syndrom dapat memperkuat positioning Hagya sebagai brand yang punya nilai. Pelanggan datang bukan hanya untuk menikmati kopi, tetapi juga untuk merasakan makna di baliknya.
Bahkan, banyak pula pelanggan yang akhirnya menjadi loyal karena mereka merasa menjadi bagian dari gerakan inklusi tersebut.
“Ini membangun emotional connection yang jauh lebih kuat dibanding sekadar transaksi,” ucapnya.
Sementara itu, Owner Spektrum Production lainnya, Handy Santika mengutarakan program inklusif ini bukan hanya memperkuat citra Hagya di mata pelanggan, tetapi juga memperkuat kultur internal perusahaan. Dia menilai brand yang kuat dibangun dari dalam. Ketika karyawan memiliki empati dan jiwa sosial yang tinggi, pelayanan menjadi lebih tulus dan berkarakter.
“Kolaborasi ini membentuk Hagya bukan hanya sebagai coffee shop berkualitas, tetapi sebagai ruang yang membangun nilai kemanusiaan,” ujar Handy.
Terlebih, menurut dia, industri kopi adalah industri yang sangat dekat dengan komunitas. Coffee shop bukan hanya tempat minum kopi, tapi ruang interaksi sosial. Karena itu, industri kopi memiliki posisi strategis untuk menjadi motor perubahan sosial.
Bahkan, dia menilai, dunia usaha di Jawa Barat memiliki peran besar dalam menciptakan lapangan kerja inklusif, mengubah stigma, dan menunjukkan bahwa profesionalisme tidak ditentukan oleh label disabilitas.
“Kami percaya bisnis dan dampak sosial bisa berjalan beriringan,” katanya.
Disinggung soal harapan ke depan, pihaknya ingin menggandeng lebih banyak individu down syndrome yang bisa bekerja secara profesional. Tentunya diiringi dengan program pelatihan yang berkelanjutan. Dia ingin Menjadikan Hagya sebagai role model coffee shop inklusif di Jawa Barat. Serta membuka peluang kolaborasi dengan lebih banyak perusahaan melalui program CSR inklusif







