HALOJABAR.CO – Rencana reaktivasi kembali jalur-jalur kereta yang sudah mati, salah satunya jalur Cipatat-Padalarang di Kabupaten Bandung Barat (KBB), jangan sampai menimbulkan dampak negatif.
Salah satunya keberadaan angkutan umum atau angkot yang ada di trayek Rajamandala-Cipatat yang juga melintasi jalur Cipatat-Padalarang. Jangan sampai keberadaan mereka terancam kehilangan pemasukan.
Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) KBB, Asep Dedi Setiawan menyebutkan, di jalur Padalarang-Rajamandala tercatat ada sekitar 150-200 angkot yang masih aktif mengaspal. Mereka selama ini harus bertahan di tengah gempuran modernisasi transportasi berbasis online.
Oleh karenanya, ketika pihaknya mendengar ada rencana akan diaktifkannya kembali kereta jalur Cipatat-Padalarang, yang terpikir adalah bagaimana para sopir trayek Padalarang-Rajamandala bisa bertahan.
Sebab bagaimana pun akan sulit untuk membendung penumpang agar tidak beralih ke transportasi kereta api. Pertimbangannya jelas, ongkos akan lebih murah dan waktu tempuh lebih terprediksi mengingat bebas macet jika dibandingkan jalur aspal.
“Kami mendukung pengembangan sektor transportasi oleh pemerintah, tapi jangan sampai reaktivasi jalur kereta api justru malah mematikan para sopir angkot,” ucapnya, Rabu 21 Mei 2025.
Dirinya memprediksi sekitar 50% penumpang angkot akan beralih ke kereta di rute Cipatat-Padalarang. Oleh karenanya harus ada win-win solusi, karena bagaimana pun angkot yang notabenenya punya dasar hukum, punya izin usaha, bisa punah jika tidak dilindungi.
BACA JUGA: Hindari Misinterpretasi soal Efisiensi Anggaran, Kepala Daerah Disarankan Lakukan Ini ke DPRD
“Masyarakat transportasi angkutan di KBB itu juga harus dilindungi, diperhatikan, dan didukung pemerintah. Saya ingin tau solusi dari gubernur seperti apa,” tuturnya pria yang akrab disapa Ucok ini.
Salah seorang sopir angkot, Acup (54) mengaku khawatir dengan adanya rencana reaktivasi jalur kereta Cipatat-Padalarang. Sebagai seorang pengemudi angkutan umum trayek Padalarang-Rajamandala sejak tahun 2003, dia telah menggantungkan periuk keluarganya dari pendapatan sebagai sopir angkot.
Selama ini, ujar Acup, kereta yang beroperasi adalah dari Sukabumi sampai Stasiun Cipatat. Bagi masyarakat yang akan menuju Padalarang akan melanjutkan perjalanan dengan menggunakan transportasi angkot.
“Kalau misalnya ada kereta, mereka yang mau ke Padalarang dari Sukabumi atau Cianjur, ya tinggal langsung, enggak akan naik angkot,” kata Warga Kampung Pojok, Desa Ciburuy, Kecamatan Padalarang, KBB ini.