Ragam  

Tiga Best Speaker Asal Indonesia Tunjukkan Kekuatan Riset Multidisipliner di Forum Internasional Malaysia

Forum Internasional Malaysia
Direktur Martasandy Psychology Indonesia, Billy Martasandy (kiri) bersama dua perwakilan dari Indonesia menerima penghargaan Best Speaker dalam The First International Conference on Multidisciplinary Research di Kuala Lumpur, Malaysia.

Penghargaan Best Speaker ketiga diraih oleh Andria Marchelia, akademisi muda yang merepresentasikan generasi baru peneliti Indonesia. Andria mempresentasikan makalah berjudul “Implementation of the Surabaya Smart City Policy in Environmental Governance in Sehati Village, Surabaya.”

BACA JUGA: Bapenda Jabar Fokus Jaga Kinerja Pendapatan Daerah di Tengah Tantangan Ekonomi

Andria Marchelia lahir pada 3 Maret 1999 dan mulai berkiprah sebagai dosen sejak November 2025.Ia merupakan dosen Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya serta dikenal sebagai dosen Gen-Z yang aktif mengkaji isu kebijakan publik dan tata kelola pemerintahan berbasis teknologi. Selain aktivitas akademik, Andria juga tercatat sebagai anggota luar biasa Ikatan Notaris Indonesia (INI).

Melalui penelitiannya, Andria mengulas implementasi kebijakan Smart City di Surabaya dengan fokus pada tata kelola lingkungan di tingkat kelurahan. Ia menyoroti bagaimana integrasi teknologi, kebijakan publik, dan partisipasi masyarakat dapat meningkatkan efektivitas pengelolaan lingkungan perkotaan secara berkelanjutan.

Billy Martasandy menilai keberagaman latar belakang dan generasi para pembicara Indonesia justru menjadi kekuatan tersendiri.

“Dari akademisi senior hingga dosen muda Gen-Z, semuanya menunjukkan bahwa Indonesia memiliki spektrum pemikiran yang kaya. Ini membuktikan bahwa riset multidisipliner di Indonesia terus tumbuh dan relevan dengan tantangan global,” ujarnya.

Keberhasilan tiga pembicara Indonesia meraih penghargaan Best Speaker dalam satu forum internasional menjadi bukti nyata kontribusi Indonesia dalam pengembangan ilmu pengetahuan lintas disiplin. Capaian ini diharapkan dapat membuka peluang kolaborasi riset internasional yang lebih luas serta memperkuat posisi Indonesia dalam peta akademik global.***