HALOJABAR.CO – Keberadaan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) liar atau ilegal di Kabupaten Bandung Barat (KBB) terus semakin banyak bermunculan.
Kondisi tersebut terjadi karena tidak adanya proses pengangkutan sampah, belum terjangkau oleh pelayanan, atau karena tidak terdapatnya bak penampungan sampah sebelum diangkut ke TPA Sarimukti.
Seperti TPS liar yang terlihat di kawasan Tanjakan Endog, Desa Sariwangi, Kecamatan Parongpong, KBB. Warga mengeluhkan tumpukan sampah yang kian tak terkendali di TPS ilegal.
Padahal lokasi tersebut merupakan jalan penghubung tiga kota kabupaten, yakni Kota Bandung, Kabupaten Bandung Barat dan Cimahi. Tak hanya polusi mata, bau tak sedap pun membuat para pengendara yang melintas tak nyaman.
“TPS liar ini sangat mengganggu, bahkan kalau lagi hujan rawan kecelakaan karena sampah terbawa air dan jalan jadi licin,” kata warga Sariwangi, Dadan Darmawan (52), Jumat 25 April 2025.
Dikatakannya, pengendara kendaraan juga seringkali kehilangan konsentrasi saat melintas di lokasi. Terlebih pengendara motor lantaran bau sampah yang menyengat dan berupaya menghindar dari kotoran sampah.
BACA JUGA: DPRD KBB Sebut TPS Ilegal di Lembang Disegel Satpol PP Bukan Oknum Komisi 3
Dirinya mengaku tidak mengetahui pihak yang menjadikan lokasi tersebut sebagai TPS ilegal. Namun warga sempat melihat adanya truk yang mengangkut sampah yang kerap menutup jalan saat proses pengangkutan.
“Memang ada truk pengangkut sampah, tapi ngangkutnya itu sampai harus menutup jalan dulu, jadi pengendara harus pada muter jauh,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi itu membuat warga khawatir. Sebab, jika terus dibiarkan mereka takut kawasan Tanjakan Endog bisa menjadi titik rawan longsor sampah.
Hal yang sama disampaikan oleh Risma (24), seorang mahasiswi yang tiap hari melintasi Tanjakan Endog. Menurutnya, selain mengancam keselamatan pengendara yang melintas, polusi udara yang dari tumpukan sampah itu membuat warga tak nyaman.
“Pernah malam-malam hujan lewat tanjakan, hampir kepeleset soalnya jalannya licin terus airnya hitam,” ucapnya.
Tak ingin pengalamannya terulang kembali, Risma pun kini memilih jalan memutar melewati jalur alternatif dengan kondisi jalan yang rusak dan penerangan minim.
“Dari situ aku jadi suka muter aja ke jalan tengah. Walaupun kadang takut ya, soalnya jalan situ kan gelap dan sepi juga,” tandasnya.***







