TPST-3R Cikole Bisa Jadi Solusi Penanganan Sampah dari Kawasan Wisata di Lembang

TPST-3R Cikole
TPST 3R di Cikole bisa menjadi solusi dari persampahan di kawasan wisata yang ada di wilayah Lembang dan sekitarnya sehingga bisa diolah dan memiliki nilai ekonomis. Foto/Istimewa

HALOJABAR.CO – Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu Reduce, Reuse, dan Recycle (TPST-3R) diresmikan di kawasan wisata Perhutani di Cikole, Lembang.

TPST-3R ini akan fokus mengelola sampah dari destinasi wisata di wilayah Cikole-Jayagiri, Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Sehingga bisa menjadi solusi persampahan ke depannya.

Adapun Perum Perhutani yang ditunjuk oleh 21 BUMN sebagai kordinator program Tanggung Jawab Sosial & Lingkungan (TJSL), membuat terobosan di tengah terbatasnya kapasitas Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sarimukti.

Yakni dengan melakukan pengelolaan sampah yang efektif dan berkelanjutan di daerah dengan potensi pariwisata yang tinggi. Salah satunya adalah kawasan Cikole-Jayagiri, Lembang, KBB.

Komandan Satuan Tugas Lembang Bersih Erwin Robiana menyebutkan pengolahan sampah di TPST 3R Cikole Jayagiri, dimulai dengan sampah yang dikirimkan dari destinasi wisata di kawasan Lembang.

Ia mengatakan untuk setiap pengangkutan sampah, dikenakan sistem buang bayar sebesar Rp300.000. “Jadi tidak ada iuran bulanan untuk tempat wisata yang jadi pelanggan. Sistemnya buang langsung bayar,” ucap Erwin, Jumat 10 Januari 2025.

BACA JUGA: Luput dari Pengawasan, TPS Liar Banyak Bermunculan di Lembang KBB

Dia mengatakan sejauh ini sudah ada 22 destinasi wisata di Cikole, Lembang yang akan mengirimkan sampahnya. Sementara terkait sampah plastik nantinya sampah itu akan dipilah, lalu dipanaskan sehingga plastik yang dipanaskan itu dapat dibentuk sesuai kebutuhan.

Menurutnya pada masa Natal dan Tahun TPST-3R Cikole-Jayagiri menjadi percobaan pengolahan sampah. Saat itu, terdapat 12 ton sampah yang dikirim ke TPST Cikole – Jayagiri.

“Kami menyelesaikan pengolahan selama empat hari. Dengan demikian, dalam satu hari bisa mengolah sampah sebanyak 3 ton,” sebutnya.

Hasil dari pengolahan sampah tersebut, kata Erwin, berupa paving block, balok, papan, kusen, dan genteng, bisa dipasarkan ke mitra destinasi wisata yang sudah bekerja sama. Untuk satu kubik itu bisa dijual Rp3,8 juta.

“Kalau dikonversikan dengan jumlah papan, satu kubik itu sejumlah 84 papan,” katanya.

Selain mengolah sampah jadi produk, Erwin menyebut ada juga proses pengolahan sampah dengan ecoenzyme. Ini biasanya dari kulit buah yang difermentasi selama tiga bulan.

Akan tetapi untuk pengolahan ini, Erwin mengakui masih mengalami kendala terutama ketersediaan SDM. Sebab dibutuhkan lebih dari 30 orang untuk proses pemilahan, pencetakan, proses press, pupuk cair, ecoenzyme, dan proses lainnya.

“Kami harus bisa menjaga keberlanjutannya. Apalagi ini bisa jadi wisata edukasi sampah,” imbuhnya.