Tren Kasus Orang dengan HIV di KBB Terus Meningkat, Ini Faktor Penyebabnya

HIV KBB
Ilustrasi HIV. (Pixabay/geralt)

HALOJABAR.CO – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bandung Barat (KBB) mencatat ada sebanyak 585 laporan Orang Dengan HIV (ODHIV), sepanjang periode 2020 hingga Agustus 2024.

Rinciannya di antaranya ada sebanyak 130 kasus baru hanya dalam rentang Januari hingga Agustus 2024. Selain itu, sebanyak 46 ODHIV dilaporkan meninggal dunia dalam periode yang sama.

“Memang untuk kasus ini (ODHIV) trendnya terus mengalami peningkatan,” kata Kepala Dinas Kesehatan KBB, Dr. Ridwan Abdullah Putra, Senin 13 Januari 2025.

Ridwan menerangkan, dari jumlah ODHIV tersebut 300 di antaranya sedang menjalani pengobatan, sementara 200 lainnya masih menunggu untuk menerima pengobatan.

Untuk penanganan HIV memerlukan pendekatan medis, psikologis, dan sosial. Meliputi diagnosis dan konseling, pengobatan antiretroviral (ARV), dukungan psikologis, dukungan sosial, serta pencegahan penularan.

“Kami juga gencar melacak, mendata, dan melaporkan warga terindikasi mengidap HIV melalui petugas kewilayahan di Puskesmas,” tandasnya.

Sementara itu guna menekan laju peningkatan ODHIV, pihaknya melakukan edukasi terhadap masyarakat mengenai cara penularan HIV.

BACA JUGA: Pemda KBB Naikkan Anggaran Kepesertaan BPJS Kesehatan hingga Rp128 Miliar

Mengingat masih banyak masyarakat yang belum memahami bahwa penularan tidak terjadi melalui percakapan, sentuhan kulit, atau berbagi gelas minum.

Termasuk mengimplementasikan sejumlah program yang menyasar populasi kunci, khusus, dan rentan.

Populasi kunci mencakup kelompok dengan perilaku berisiko tinggi, seperti pekerja seks komersial (PSK), pengguna narkotika suntik, waria, serta pria yang berhubungan sesama jenis.

Strategi penanggulangan yang diterapkan diantaranya skrining deteksi dini HIV pada kelompok berisiko, pengembangan layanan perawatan dukungan dan pengobatan HIV, serta pelacakan ODHIV yang baru ditemukan namun belum mengakses ARV.

Dalam menjalankan program-program tersebut, Dinkes KBB bekerja sama dengan LSM, pendamping sebaya, kader masyarakat, dan kelompok dukungan sebaya untuk menjangkau populasi berisiko tinggi serta memberikan pendampingan psikososial kepada ODHIV agar tetap menjalani pengobatan ARV.

“Pemantauan keberhasilan pengobatan dilakukan melalui pemeriksaan viral load,” sebutnya.

Lebih lanjut ia menerangkan, HIV/AIDS di KBB sama seperti di daerah lainnya. Umumnya disebabkan oleh perilaku berisiko yang memungkinkan penularan virus HIV. Seperti hubungan seksual tanpa menggunakan kondom dengan pasangan yang status HIV-nya tidak diketahui atau dengan banyak pasangan.