Warga KBB Jadi Korban TPPO di Myanmar Alami Trauma Berat Akibat Disiksa dan Disetrum

Warga KBB Korban TPPO
Kepala Bidang Pelatihan, Produktivitas, Penempatan, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi (P3TKT) Disnakertrans KBB, Dewi Andani. (Adi Haryanto/HALOJABAR.CO)

HALOJABAR.CO – Salah seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang berangkat secara ilegal asal Kabupaten Bandung Barat (KBB), menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) di Myanmar.

Korban berjenis kelamin laki-laki berinisial W itu berasal dari Kecamatan Ngamprah. Saat ini dia telah berhasil dipulangkan oleh pemerintah bersama korban lainnya asal Indonesia.

Kepala Bidang Pelatihan, Produktivitas, Penempatan, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi (P3TKT) Disnakertrans KBB, Dewi Andani mengatakan, W termasuk 518 PMI ilegal yang sempat terjebak jaringan TPPO dan dieksploitasi untuk menjalankan penipuan digital.

Awalnya, W dijanjikan pekerjaan di Taiwan dengan iming-iming upah sebesar Rp15 juta. Namun dalam perjalanannya justru dia malah dipindahkan-pindahkan.

“Korban bercerita bahwa dia dibawa ke hutan dan sungai menggunakan rakit serta dikawal pasukan bersenjata,” tutur Dewi, Jumat 25 April 2025.

Sampai di Myanmar, W dipaksa bekerja sebagai scammer penipuan yang bakal menguras uang korbannya secara otomatis.

BACA JUGA: Warga Cimahi Korban TPPO di Myanmar Berhasil Dibebaskan dan Pulang ke Indonesia

Korban sempat mengalami kekerasan fisik mulai disetrum dan disundut rokok hingga diancam bakal diambil ginjal tanpa dibius jika gagal mendapat korban sebagai scammer.

“W akan menerima uang apabila dapat korban atau ada yang ketipu oleh dia,” sambung Dewi seraya menyebutkan korban di luar negeri sudah dua tahun.

Saat ini kondisi W memang sehat secara fisik, tapi masih trauma. Pemda KBB melalui Disnakertrans, DP2KBP3A dan Dinsos KBB telah melakukan pendampingan intensif untuk membantu mengatasi traumanya.

“Kami akan sesuaikan dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing. Seperti di Disnaker akan dilibatkan dalam program pelatihan kerja dan difasilitasi untuk kembali masuk ke dunia kerja formal,” ujarnya.

Lebih lanjut, pihaknya tengah gencar mensosialisasikan bahaya penawaran kerja ke luar negeri khususnya wilayah rawan seperti, Myanmar, Filipina, Thailand, dan sekitarnya. Hal tersebut dilakukan untuk mengantisipasi adanya kejadian yang serupa.

“Kita sekarang gencar mensosialisasikan melalui seluruh media sosial, karena begitu ada iming-iming kerja di Myanmar itu sudah dipastikan adalah penipuan,” tegasnya.***