HALOJABAR.CO – Kualitas udara di sejumlah titik lokasi di Kabupaten Bandung Barat (KBB) sempat turun ke kategori sedang.
Kondisi tersebut menyusul laporan warga mengenai adanya debu berwarna cokelat hingga keabu abuan yang diduga berkaitan dengan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Dinas Lingkungan Hidup KBB kini memperketat pengawasan melalui sistem pemantauan otomatis AQMS meskipun tren kondisi udara mulai menunjukkan perbaikan.
Data rekaman real time memperlihatkan indeks kualitas udara sempat menyentuh angka 65 pada Selasa 8 September 2026 sebelum turun ke angka 60 pada Rabu pagi berikutnya.
Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan kondisi tiga hari sebelumnya yang masih berada di level 40 dan tergolong baik.
Lonjakan tersebut didominasi kenaikan kadar partikulat halus PM2 5 dan PM10 namun pihak berwenang belum memastikan sepenuhnya sumbernya berasal dari abu vulkanik dan masih menunggu hasil uji laboratorium.
“DLH mencatat adanya lonjakan partikulat PM2 5 dan PM10 yang beriringan dengan laporan warga mengenai tumpukan debu yang terlihat berbeda dari debu jalanan biasa namun pihaknya belum memastikan 100 persen berasal dari aktivitas vulkanik dan masih menunggu hasil uji laboratorium” kata Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan DLH KBB, Gentarez Wara Nainggolan pada Kamis 10 September 2026.
Sistem pemantauan yang terpasang di Kompleks Perkantoran Pemkab Bandung Barat mencatat berbagai parameter pencemaran secara berkelanjutan.
Meski angka konsentrasi debu kini mulai menurun Gentarez mengingatkan kondisi dapat berubah sewaktu waktu sehingga pengawasan tidak boleh dikendurkan.
Masyarakat diminta tidak panik namun tetap waspada dan memakai masker saat beraktivitas di luar ruangan terutama jika udara terlihat berdebu.
“Kami meminta masyarakat tidak panik berlebihan namun tetap waspada dan antisipatif. Sebagai langkah aman gunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan dan hindari paparan langsung jika udara terlihat berdebu” jelasnya. Diskomminfotik KBB






