HALOJABAR.CO – Sejumlah pimpinan NGO yang tergabung dalam Indonesia Gaza Inisiatif (IGI), di antaranya Yayasan Amal Bakti Dunia Islam (ABAD), Yayasan Kasih Palestina, dan Yayasan Harapan Amal Mulia, mengunjungi kantor pusat Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada Selasa, 31 Maret 2026.
Kunjungan tersebut bertujuan untuk mempererat silaturahmi sekaligus berkonsultasi mengenai rencana program rekonstruksi Gaza yang akan dijalankan oleh IGI di Palestina.
“Kami melihat sejak terjadinya genosida di Gaza dalam dua tahun terakhir ini hingga sekarang, belum ada aksi nyata untuk membantu masyarakat yang tengah menderita di sana,” ungkap Ketua Yayasan Abadi yang sekaligus Ketua IGI.
Pertemuan tersebut dihadiri oleh Ketua MUI Bidang Luar Negeri, Prof. Dr. Sudarnoto Abdul Hakim beserta jajaran pengurus, Direktur Yayasan Kasih Palestina, Nandang Cahya, serta Direktur Yayasan Harapan Amal Mulia, Agis Muhsin.
Dalam kesempatan itu, Hamdi menegaskan komitmen berbagai NGO inisiator IGI untuk melakukan langkah nyata dalam rekonstruksi di Gaza. Menurutnya, IGI tidak hanya fokus pada edukasi dan ajakan partisipasi masyarakat, tetapi juga akan melibatkan warga Gaza secara langsung mulai dari tahap perencanaan hingga pelaksanaan pembangunan.
“Alhamdulillah, kami sebelumnya telah memiliki portofolio saat membangun Masjid Istiqlal Gaza di Khan Younis,” ungkap Hamdi.
BACA JUGA: Bantu Pemulihan Warga Gaza, Yayasan Kasih Palestina dan Sejumlah NGO Inisiasi Pembentukan IGI
Hamdi menambahkan bahwa pihaknya berencana merangkul para tokoh nasional maupun daerah untuk bergabung sebagai inisiator IGI. Kolaborasi ini bertujuan untuk memperkuat upaya realisasi program rekonstruksi di Gaza secara lebih luas.
“Kami juga berharap MUI bisa mengarahkan kami supaya program yang kita cita-citakan ini bisa terwujud dan membawa perubahan di Gaza Palestina,” pungkas Hamdi.
Dukung IGI
Ketua MUI Bidang Luar Negeri, Prof. Dr. Sudarnoto Abdul Hakim, menyatakan dukungan penuh atas kehadiran IGI sebagai gerakan bersama untuk Palestina.
Sudarnoto menjelaskan bahwa dalam upaya pembelaan Palestina, MUI telah bergerak mempersatukan kekuatan masyarakat sipil melalui beberapa pilar utama, yakni kolaborasi MUI dengan ormas Islam, lembaga filantropi, serta Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI.
“Jadi apa yang dilakukan oleh IGI ini sudah sejalan dengan apa yang dilakukan oleh MUI,” ungkap Sudarnoto.
Meski demikian, Sudarnoto berharap ke depan IGI dan berbagai gerakan kepalestinaan lainnya bisa bergabung dalam satu perahu besar menggunakan satu identitas yaitu bendera merah putih, atau Indonesia.




