Merintis Mimpi di Balik Secangkir Kopi, Cerita Inklusif Penyandang Disabilitas di Hagya Cafe Bandung

Hasil evaluasi selama magang kemudian menjadi pertimbangan untuk memberikan kontrak kerja part-time selama tiga bulan. Namun, sejumlah pekerja yang bergabung sejak awal masih bertahan hingga hampir satu tahun.

“Ada lima penyandang disabilitas yang bekerja part-time. Empat di antaranya telah memiliki kontrak kerja, sementara satu pekerja lainnya bertugas di bagian dapur dan merupakan penyandang tunarungu,” jelasnya.

Selain pekerja yang sudah bergabung, ada sekitar enam penyandang disabilitas yang baru mulai menjalani proses magang. Hady mengakui, proses adaptasi pada awalnya tidak selalu mudah. Karena itu, pihaknya sempat mendapatkan pendampingan dari Persatuan Orang Tua dan Anak dengan Down Syndrome (POTADS) untuk memahami cara berkomunikasi dan berinteraksi dengan pekerja.

“Awalnya memang agak sulit, karena belum tahu, belum bisa beradaptasi. Makanya ada pendampingan dulu dari POTADS. Dikasih tahu caranya beradaptasi dengan mereka. Tapi itu hanya berlangsung satu minggu,” katanya.

Setelah proses pendampingan, para pekerja mulai terbiasa dengan lingkungan kerja. Hady juga menerapkan pendekatan yang lebih santai melalui humor dan apresiasi agar mereka tetap percaya diri.

“Ternyata ada beberapa trik pendekatan: harus difun-kan, harus humor, dan harus diapresiasi agar tetap semangat,” ujarnya.

Upaya pemberdayaan di Hagia Cafe juga mendapat dukungan dari PT PLN melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN Pusherlis.

Senior Manager Keuangan, Komunikasi, dan Umum PLN Pusherlis, Sumarni, mengatakan, dukungan tersebut diberikan melalui program TJSL Empower 2024. Program ini menyasar masyarakat di sekitar lingkungan kantor PLN Pusherlis, termasuk kelompok penyandang disabilitas di Hagia Cafe.

Menurutnya, penyandang disabilitas memiliki potensi untuk mengembangkan kemampuan dan menghasilkan produk ekonomi kreatif apabila mendapatkan kesempatan serta pendampingan yang tepat.

“Saya rasa mereka ini sangat prospektif di tengah keterbatasan. Tetapi mereka bisa menunjukkan semangat, mereka bisa dipekerjakan di Hagia Cafe ini bersama masyarakat pada umumnya. Itu yang menarik bagi kami untuk menyalurkan bantuan ini kepada mereka,” kata Sumarni.

Dukungan yang diberikan tidak hanya berupa bantuan dana, tetapi juga pelatihan keterampilan. Beberapa di antaranya pelatihan membatik, bakery, pastry, pengembangan UMKM hingga pemasaran digital.

PLN juga memberikan dukungan peralatan yang dibutuhkan untuk menunjang kegiatan pelatihan tersebut..Sumarni berharap, keterampilan yang diperoleh para peserta bisa dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi dan memiliki peluang untuk dipasarkan lebih luas.