HALOJABAR.CO – Penyandang disabilitas, termasuk mereka yang memiliki Down Syndrome memiliki tantangan tersendiri ketika mengakses dunia kerja. Kendati demikian, salah satu kafe di Kota Bandung membuka ruang kerja bagi penyandang disabilitas.
Itu bisa terlihat pada Hagya Cafe and Roostery di Kelurahan Pasirkaliki, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung. Teman-teman istimewa terlibat langsung dalam aktivitas operasional, mulai dari meracik kopi, menyajikan pesanan hingga melayani pelanggan. Mereka tidak sekadar mengikuti pelatihan, tetapi juga mendapatkan kesempatan bekerja dengan sistem kontrak part-time.
Salah satunya Vania Sawiasa. Perempuan asal Bandung ini mengaku senang bekerja sebagai barista di Hagya Cafe karena bisa bertemu banyak teman sekaligus mengembangkan kemampuannya meracik kopi.
“Senang. Banyak teman-teman,” kata Vania saat ditemui di Hagya Cafe.
Menurut dia, pekerjaan tersebut menjadi momentum ruang untuk mengembangkan keterampilan dan berinteraksi dengan orang lain. Artinya bekerja sebagai barista di Hagya Cafe bukan hanya soal untuk mendapatkan penghasilan.
Perempuan berusia 27 tahun itu mengaku senang bisa bekerja bersama teman-temannya. Vania juga sudah mampu membuat sejumlah menu kopi dan mengantarkan pesanan langsung kepada pelanggan.
Beberapa menu yang biasa dibuatnya antara lain kopi tubruk, kopi gula aren, dan kopi hitam. Sementara untuk minuman kesukaannya, Vania memilih kopi susu dan kopi hitam. Semua pesanan itu dia bisa mengerjakannya sendiri karena sudah memiliki ilmunya.
“Sebelum bekerja di Hagya Cafe, Vania pernah mengikuti les untuk belajar membuat kopi,” ucapnya.
Penghasilan dari pekerjaannya pun mulai dia gunakan untuk memenuhi kebutuhan pribadi dan menabung. Salah satu barang yang pernah dibelinya dari hasil bekerja adalah tumbler. Ketika ditanya mengenai cita-citanya, Vania mengaku ingin memiliki kedai kopi sendiri.
“Saya ingin punya kedai kopi sendiri,” jelasnya.
Founder Hagya Coffee n Roastry sekaligus pengurus Yayasan Matahati Luar Biasa, Handy Santika mengatakan, keterlibatan penyandang disabilitas di kafenya berangkat dari persoalan yang kerap dihadapi setelah menyelesaikan pendidikan.
Menurutnya, banyak penyandang disabilitas yang sudah mendapatkan pendidikan dan pelatihan, tetapi masih kesulitan menemukan tempat untuk mengembangkan kemampuan maupun mendapatkan pekerjaan.
“Permasalahan disabilitas itu, setelah mereka lulus sekolah, mereka mau ke mana?” ujar Hady.
Berangkat dari persoalan tersebut, dia mencoba membuka kesempatan kerja melalui Hagya Coffee n Roastry. Sebelum bekerja, para calon pekerja menjalani masa magang selama satu bulan untuk melihat kemampuan dan potensi masing-masing.






